Categories
Berita

Takut, Banyak Anak di Tangerang Menderita Gizi Buruk

VIVA – Jadi daerah penyangga ibukota, perkembangan pembangunan di Tangerang cukup masif. Infrastruktur yang menjadi parameter masyarakat, dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sangat signifikan. Tangerang bahkan menjadi tanah air terbesar ketiga di Jabodetabek dengan memiliki infrastuktur yang mendukung terciptanya sebuah kawasan hunian yang damai.

VIVA   – Sebagai kawasan penyangga ibukota, perkembangan pembangunan dalam Tangerang cukup masif. Infrastruktur dengan menjadi parameter masyarakat, dalam sepuluh tahun terakhir tumbuh sangat kaya.

Tangerang bahkan menjelma kota terbesar ketiga di Jabodetabek yang memiliki infrastuktur yang menunjang terciptanya sebuah kawasan hunian dengan nyaman.  

Sayangnya, berbanding terbalik dengan geliat pertumbuhan infrastruktur, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Tangerang yang menjadi parameter keberhasilan pembangunan untuk kesejahteraan klub terbilang rendah.  

Berdasarkan data Institusi Pusat Statistik (BPS), IPM Tanah air Tangerang sebesar 77, 01 mengakar urutan ke-53 IPM kota ataupun kabupaten se-Indonesia. Sementara Kabupaten Tangerang dengan IPM 70, 97 berharta pada urutan 145, dari mutlak 514 kabupaten atau kota di Indonesia.

Baca juga: Selebriti Sampai Politisi, Ikut Komentari Pose Reza dengan Prilly

Jika dirunut, salah satu faktor penentu tinggi rendahnya IPM adalah kecukupan gizi anak di masa 1. 000 HPK. Artinya, kecukupan gizi budak sejak dalam masa kandungan tenggat berusia dua tahun, akan menetapkan kualitas anak di masa depan.  

Asupan gizi yang cukup bakal menumbuhkan generasi unggul yang mampu bersaing dengan masyarakat dunia. Sebab itu, bila IPM Tangerang, yang hanya berjarak 50 km sejak pusat kota Jakarta berada di urutan bawah, maka kecukupan gizi anak-anak usia dini perlu diperhatikan.    

Tumenggung Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar, mengiakan masih banyak anak-anak yang menjalani stunting atau masalah kurang gizi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tangerang, tercatat ada sebanyak 28, 8 persen warganya yang menderita kurang gizi.

Baca juga: Pelawak Omas Wati Meninggal Dunia

“Stunting ini masih dianggap biasa, padahal ini berdampak di pertumbuhan anak. Masyarakat harus cakap masalah stunting, supaya bisa diminimalisir keberadaannya, ” ujar Ahmed Zaki, dikutip dari siaran pers dengan diterima VIVA, Kamis 16 Juli 2020.  

Penggerak kesehatan anak, Yuli Supriati, mengutarakan di beberapa daerah, stunting sedang belum menjadi kekhawatiran masyarakat. Bahan ibu dan ibu-ibu muda, dianggap Yuli masih banyak yang tak teredukasi mengenai stunting ini.  

“Masyarakat tidak prinsip apa itu stunting, apa penyebabnya, seperti apa tanda-tandanya dan barang apa yang harus dilakukan. Saya menemukan, beberapa anak dengan usia 2 tahun, berat badannya hanya dua kg, tapi orang tuanya sedang ngotot anaknya baik-baik saja, ” kata dia.  

Disebutkan Yuli, dalam kunjungannya ke Puskesmas Tigaraksa, Tangerang, beberapa masa lalu. Ia mendapati 36 budak usia di bawah 5 tahun berada dalam status kurang gizi. Sebanyak 21 anak di antaranya berada pada rentang usia 1 – 2 tahun.  

Di desa Cileleus, Tigaraksa Tangerang, Yuli bertemu Mutia serta Tegar, dua balita penerima rencana pemberian makanan tambahan (PMT) lantaran Puskesmas Tigaraksa. Mutia dan Kaku berusia 2 tahun, dengan mengandung badan hanya 7 kg. Real, untuk anak normal, usia perut tahun seharusnya memiliki berat awak 14 kg untuk perempuan & 15 kg untuk laki-laki.  

“Pas bayinya mah dikasih ASI, tapi kan bapak ibunya kerja, anaknya dirawat hamba. Kalau pas lagi ada (uang), dibeliin susu kaleng, sering selalu diutangin di agen, ” ujar Amah, nenek yang merawat Mutia.  

Susu kaleng yang dimaksud Amah adalah liat manis. Amah sendiri sudah tak mengingat sejak kapan cucunya menggunakan kental manis sebagai asupan nutrisi. Dalam sehari, Mutia bisa mengonsumsi 3 – 4 gelas liat manis.  

Tak jauh berbeda dengan Mutia, Kaku yang waktu ditemui berada enak dalam gendongan ibunya pun seringkali mengonsumsi kental manis.

“Kalau lagi nggak punya kekayaan ya nggak dikasih apa-apa. Jika lagi ada beli susu yang sachetan aja di warung, ” pengakuan ibu dari Tegar.  

Dalam sehari, Tegar pun bisa minum kental rupawan 3 – 4 kali di sehari. Saat Yuli menjelaskan menimpa kandungan kental manis bahwa keras manis bukanlah minuman susu untuk anak, keluarga Mutia dan Teguh kompak menjawab tidak tahu.  

Menurut mereka, likat manis adalah susu seperti yang diiklankan melalui televisi, rasanya indah disukai anak dan harganya terjangkau. Mirisnya, asupan yang salah itu tidak hanya dialami Mutia serta Tegar.

“Ada banyak anak-anak lain yang bernasib sekadar kenyang, tanpa mereka tahu kalau yang mereka makan dapat menjelma racun bagi tubuh mereka kelak, ” tutur Yuli Supriati. (day)