Categories
Berita

The particular Legendary: Gol Maut Le Tissier Penghancur Karier Massimo Taibi

VIVA – Manchester United saat ini mungkin jadi salah satu klub yg sibuk mencari penjaga gawang baru usai David de Gea memunculkan performa yang terbilang buruk pada sepanjang musim ini. Kiper asal Spanyol itu sangat sering proses blunder yang ujung-ujungnya merugikan tim.

VIVA   –  Manchester United saat ini mungkin jadi salah satu klub yg sibuk mencari penjaga gawang baru usai David de Gea memunculkan performa yang terbilang buruk pada sepanjang musim ini. Kiper dasar Spanyol itu sangat sering melakukan blunder yang ujung-ujungnya merugikan tim.

Blunder terakhir yang dilakukannya muncul ketika bersua Chelsea di semifinal Piala FA. Dia gagal membendung tendangan Mason Mount sehingga berubah menjadi gol kedua The Blues di laga tersebut.

Tentu, hal itu sangat memalukan. Tapi, ternyata Sobre Gea bukanlah yang terparah andai membahas soal blunder.

Suporter The Crimson Devils tentu masih terngiang nama Massimo Taibi. Ya, kiper dasar Italia yang kariernya sangat singkat di Old Trafford.

Sedikit mengulas ke belakang, tepatnya di musim panas 1999. Itulah momen di mana Taibi tuk pertama kalinya meninggalkan Italia.

Taibi yang kala itu berusia 29 tahun didatangkan Sir Alex Ferguson untuk mengisi posisi penjaga gawang Setan Merah. Dia ditebus dengan mahar sebesar £4, 5 juta dari Venezia. Harga yang cukup mahal mengingat perannya yang minim.

Tapi, tetap saja pindah ke MU merupakan sebuah lompatan yang besar bagi karier Taibi. Sebab, Setan Merah adalah klub besar kedua yang menggunakan jasanya setelah AC Milan. Transfer ini menjadikannya pemain Italia pertama di MU.

Sedari pokok, Taibi sebenarnya tak diplot sebagai kiper utama. Tapi, sebagai deputi bagi Mark Bosnich dan Raymound van der Gouw. Sialnya, dua kiper tersebut cedera dan akhirnya Taibi jadi pilihan utama.

Debutnya pun dirasa cukup baik. Melawan Liverpool, dia berhasil mencatatkan sejumlah penyelamatan gemilang serta membawa MU menang 3-2 dan menyabet gelar man of the match.

Performa apik tersebut membikin Ferguson kembali memercayakan posisi di bawah mistar gawang MU padanya di laga berikutnya kontra Wimbledon. Meski berakhir imbang 1-1, tapi penampilan Taibi berhasil mengundang decak kagum.

Namun, sepenuhnya berubah jadi petaka saat menjalani duel kontra Southampton. Di laga inilah karier Taibi di Older Trafford jatuh ke lubang paling dalam.

MU langkah pertamanya sempat tertinggal 0-1 lewat gol Marian Pahars di menit 17. Setan Merah baru bisa membalas 17 menit berselang melalui gol Teddy Sheringham.

MU akhirnya berbalik unggul di menit 37 setelah tandukan Dwight Yorke menaklukkan Paul Jones untuk kedua kalinya di laga ini. Skor 2-1 bertahan hingga turun minum.

Seandainya sepakbola sebatas berjalan 45 menit, mungkin karier Taibi bersama MU akan panjang. Sayangnya, pertandingan masih berjalan satu babak lagi.

Babak kedua benar-benar jadi mimpi buruk buat Taibi. Di menit fifty-one, MU kembali kebobolan oleh gol Matt Le Tissier.

Namun, gol yang hadir bukan dengan cara yang cantik. Melainkan blunder dari Taibi.

Kiper asal Italia itu gagal menangkap bola hasil tembakan jarak jauh yang sangat lemah dari Le Tissier. Bola melewati kedua tangannya lalu lolos dari sela-sela kaki Taibi dan berubah menjadi gol.

Tentu saja, suporter MU yang hadir pada Old Trafford pun terdiam melihat gol tersebut. Bagaimana mungkin bola yang harusnya bisa ditangkap oleh mudah malah masuk ke gawang.

Setelahnya, MU memang bisa kembali memimpin lewat gol kedua Yorke. Namun, Setan Merah harus berbagi satu poin dari laga ini setelah Le Tissier mencetak gol keduanya di menit 73. Membuat laga berkesudahan 3-3.

Usai laga, Taibi dicaci habis-habisan. Bahkan, dia sampai dijuluki “Orang Buta dari Venezia” oleh media Inggris.

Kendati demikian, Ferguson masih mempercayakan Taibi di laga berikutnya ketika menghadapi Chelsea. Dan ini benar-benar jadi laga terakhir Taibi bersama MU lantaran dia melakukan banyak kesalahan yang membuat Setan Merah kalah 0-5. Total, dia sebatas mencatatkan empat penampilan bersama Setan Merah.

Setelah tersebut, Ferguson tak pernah lagi memasang Taibi. Kariernya di Theatre of Dream berjalan  sangat singkat  lantaran kurang dari sebulan. Dia kemudian dipinjamkan ke Reggina pada Januari 2000. Taibi kembali melanjutkan karier di Italia dengan membela Atalanta, Torino, sebelum pensiun bersama Ascoli pada 2009 silam.

“Sebelum laga, Paul Scholes datang dan mengatakan pada saya: ‘Hati-hati dengan Le Tissier’. Saya membalas: ‘Kenapa orangtua itu harus saya waspadai? ‘ Saya menyebutnya tua hanya untuk mengenalinya, ” ujar Taibi dikutip Sportsmail.

“Ironisnya, dia menjadi sangat kuat dan mencetak gol karena kesalahan saya. Scholes berlari ke arah saya serta menyemangati. Dia kemudian mengatakan sambil tersenyum: ‘Kamu lihat apa yg dilakukan orangtua itu padamu? ‘, ” jelasnya.