Categories
Berita

Senyum Penyandang Disabilitas NTB di Tengah Pandemi COVID-19

VIVA – Gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada 2018 sempat meluluhlantakkan kantor pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Namun, kini pra penyandang disabilitas mempunyai kantor baru yang diberikan Kapolda NTB Irjen Mohammad Iqbal.

VIVA   –  Gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada  2018 sempat meluluhlantakkan kantor pengurus Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI). Namun, kini para penyandang disabilitas mempunyai kantor baru yang diberikan Kapolda NTB Irjen Mohammad Iqbal.

Pemimpin PPDI NTB, Asim Barnas mengatakan, kantor baru yang didapatkan usai dirinya bersama rekan penyandang disabilitas lainnya dikunjungi Irjen Iqbal. Kepada Irjen Iqbal, ia bercerita yakni PPDI termasuk organisasi tertua dan berdiri sejak 1989.

Asim sempat bercerita tentang keberadaan mereka yang termarginal. Asim menuturkan, kerap mengundang pejabat-pejabat untuk mengunjungi dirinya dan rekan-rekan, namun jarang yang menghadiri undangan.

“Selama ini dari penyandang, sering ketika saya masih aktif, sebelum jadi ketua (PPDI), sering ketua saya mengundang kepala-kepala dinas, kepala instansi lain. Itu jarang sekali turun tangan hadir untuk menemui kami. Ini beda, ini yang kami rasakan, begitu bapak kapolda ini membuat kami merasa terayomi, ” ujar Asim kepada wartawan, Jumat, 4 September 2020.

Baca juga:   Penyandang Disabilitas Didorong Bisa Bekerja di BUMN

Kepada Irjen Iqbal, Asim menyampaikan harapan agar penyandang disabilitas di Bumi Gora dipenuhi hak-haknya sesuai Undang Nomor 8 Tahun 2016. Asim berharap Irjen Iqbal dapat membawa harapannya ke forum pimpinan daerah.

“Saya bilang tadi antara bapak dan anak tahun ini sudah terjalin. Harapan kami ke depan bagaimana penyandang disabilitas diperhatikan, dikembalikan hak-haknya sesuai dengan Undang Nomor 8 Tahun 2016. Itu yang kami sampaikan ke Pak Iqbal agar ini dapat diimplementasikan di seluruh instansi Pemerintahan NTB, ” tutur Asim.

Ia pun mencontohkan hak disabilitas terhadap akses di fasilitas publik. Menurutnya, sangat banyak teman disabilitas tidak bisa mengakses tempat-tempat umum.

“Tapi ini memang sudah dikerjakan oleh Dinas Perhubungan, kami juga apresiasi. Di trotoar contohnya, sudah ada guiding block . Tapi melimpah di perkantoran belum, ” ujar Asim

Di mata Asim, Irjen Iqbal adalah sosok yang patut diteladani. Asim menyebut PPDI awalnya tak berharap diperhatikan, apalagi oleh polisi, namun justru perhatian itu datang dari seorang polisi. Asim pun menerangkan pertemuan pengurus dan anggota PPDI dengan Irjen Iqbal berjalan alami.

“Saya begitu melihat sosok pemimpin yang patut diteladani, dicontoh dan juga seperti bapak lalu anak, dekat. Selalu membicarakan hal yang positif. Tanpa meminta, beliau dengan tanggap mengerti apa yg kita mengerti sebagai anaknya. Dan beliau tidak meminta sambutan yang meriah, yang diedit, di- setting begitu. Beliau natural. Ini yang sangat berkesan di kami. Ini tidak bisa kami lupakan. Baru ini kami jumpai seorang kapolda, jenderal bintang dua turun merangkul kami secara langsung, inch cerita Asim.  

Asim menuturkan, Irjen Iqbal tergugah mendatangi dirinya dan kawan-kawan karena inisiatif PPDI membuat video tentang implementasi Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).

Irjen Iqbal, kata Asim, terkesima lantaran kaum disabilitas dapat mengambil kontribusi terhadap Inpres.

“Awalnya kami buat kampanye Inpres Nomor 6/2020 itu, untuk pencegahan COVID-19, kami buat movie. Dan video itu yang mungkin Pak Iqbal dan jajaran polda merasa tergugah. Seorang penyandang bisa berbuat seperti saudara-saudaranya yang nondisabiltas, ” ucap Asim.

“Acara ini natural sekali, tidak ada diatur. Berulang kali saya tanya, ini dalam rangka apa, tema apa, pihak kepolisian enggak beritahu kami. Hanya info saja bapak mau berkunjung ke kantor PPDI. Sehingga kami kebingungan penyambutannya kayak apa. Jadi kami enggak ada mempersiapkan protokol, MC, / apa. Dan juga, beliau juga enjoy saja duduk di kursi yang reyot, nggak tanggung-tanggung. Tidak kayak pejabat lain harus pake kursi busa, disambut meriah, macem-macem . Ini yang jadi nilai tambah dari kami, ” sambung Asim.

Asim kemudian menerangkan Irjen Iqbal akan membantu pembuatan SIM khusus untuk penyandang disabilitas berkendara. Asim juga diberi pesan oleh Irjen Iqbal untuk selalu mengampanyekan protokol kesehatan.

“Mungkin untuk sementara kerja sama yang tadi disampaikan ini buat komunitas kami, dari Ditlantasnya telah menyiapkan namanya SIM  B, mungkin juga kabidkum kami  sudah didampingi ketika ada penyandang disabilitas oleh kasus hukum. Jadi kerja samanya begitu. Yang tadi ditekankan, kami ini PPDI mendukung bapak kapolda dalam rangka pencegahan COVID-19. Kami bertekad menyosialisasikan ke penyandang disabilitas agar mematuhi protokol kesehatan yang dituangkan, dijalankan Inpres 6/2020, inch ucap Asim.

Ketika ini, kata Asim, PPDI NTB masih meminjam kantor oleh Dinas Sosial Kabupaten Lombok Barat. Asim menuturkan,   Kapolda NTB Irjen Mohammad Iqbal  juga memberikan notebook, printer serta meja kerja.

“Kami ini enggak menyangka seorang kapolda mau berkunjung tempat kami. Banyak yang disampaikan titah, motivasi kepada kami. Kami pun begitu, itulah yang kami harapkan. Bapak kapolda kami anggap bapak bagi kami, kita semua, mau mendatangi anaknya itu loh, tersebut jadi kebanggaan bagi kami, inch ungkap Asim.

Sementara itu, Irjen Iqbal mengaku terkejut dengan semangat para disabilitas yang tergabung di PPDI NTB. Di masa pandemi ini, para penyandang disabilitas terus bekerja. Irjen Iqbal menyebut, berdasarkan informasi PPDI yang bersumber dri data Dinas Sosial NTB tahun 2018, ada sebanyak 23 ribu penyandang disabilitas.

“Saya terkejut mendengar mereka bekerja sepenuhnya. Tidak ada yang berpangku tangan, mereka ada yang PNS, pegawai swasta. Dari 23 penyandang disabilitas di NTB, mayoritas bekerja sepenuhnya, ” kata Iqbal.

Iqbal mengaku kagum dengan kegigihan para penyandang disabilitas di NTB. Irjen Iqbal mengatakan, tak sedikit pihak yang memarginalkan penyandang disabilitas, namun stigma itu tak menyurutkan semangat para penyandang disabilitas berkarya.

“Mereka terharu (dikunjungi), terus juga semangat karena bukan sedikit orang-orang yang ‘memarginalkan’ mereka, tapi dengan itu juga menyulut semangat mereka untuk terus berkarya. Mereka kan punya kendaraan khusus misalnya sepeda motor roda 3, kami sudah bantu untuk semuanya harus punya SIM khusus, ” kata Iqbal. (art)