Categories
Berita

Sedang Pandemi COVID-19, Perhatikan Ini pra Belajar Tatap Muka

VIVA – Pandemi Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 belum usai. Namun, sekolah di kira-kira daerah, termasuk di Jawa Timur, telah melaksanakan uji coba penelaahan tatap muka. Namun, ada kurang hal yang perlu diperhatikan pra belajar tatap muka itu sungguh-sungguh dibuka kembali. Endah Setyarini lantaran Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim mengatakan, sesuai dengan rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan…

VIVA   –  Pandemi Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 belum usai. Namun, sekolah pada beberapa daerah, termasuk di Jawa Timur, telah melaksanakan uji coba pembelajaran tatap muka.

Namun, ada beberapa hal dengan perlu diperhatikan sebelum belajar tatap muka itu betul-betul dibuka balik. Endah Setyarini dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim mengucapkan, sesuai dengan rekomendasi WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), IDAI menyarankan supaya sekolah ditutup dahulu selama pandemi. Jika pun terpaksa dibuka, wilayah tersebut harus berstatus zona hijau atau setidaknya zona kuning.  

”Pembelajaran tatap muka belum direkomendasikan selama suatu wilayah belum menjadi zona hijau, atau setidaknya zona kuning, ” kata pendahuluan Endah saat diskusi online bertema ‘Vaksin COVID-19 dan Kesiapan Bani Menjalani Pembelajaran Tatap Muka’ dengan diselenggarakan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung-Jurnalis Sahabat Anak (JSA)-Unicef Nusantara pada Rabu, 18 November 2020.

Baca juga:   Setelah Anies, Polisi Bakal Panggil Ridwan Kamil Soal Habib Rizieq

Selain zona risiko, sendat Endah, ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan sebelum membatalkan akan membuka sekolah. Di antaranya yaitu memetakan kasus positif bola lampu kelurahan, pemetaan lokasi sekolah tercatat dari mana saja muridnya bermula.

”Karena bisa selalu sekolahnya zona hijau, tapi muridnya ada yang dari zona merah, dan terjadi penularan sesama siswa, lalu ke orang dewasa di sekitarnya, ” ujarnya.  

Soal vaksin COVID-19 yang saat ini terus-menerus diujicobakan, Endah mengatakan masih dibutuhkan waktu serta uji klinis mengenai keefektifannya sebelum tersedia secara merata. WHO sendiri menyatakan bahwa setidaknya sudah ada lebih dari 100 perusahaan vaksin di berbagai negara yang sedang dalam proses uji klinis dan hingga saat ini belum final.  

Wakil Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Jatim, Atik Choirul Hidajah, memaparkan, jumlah kasus COVID-19 pada anak di Indonesia mencapai 9, 7 persen dari total penanggung COVID-19 atau sejumlah 24. 966 anak. Secara rinci jumlah tersebut terbagi menjadi 2, 4 persen anak usia 0-5 tahun & 7, 3 persen anak leler 6-18 tahun.  

Menurutnya, untuk kembali membuka madrasah dan melakukan kembali pembelajaran tatap muka tentunya dibutuhkan kajian secara ilmiah. ”Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) merupakan pilihan paling baik buat mencegah penularan antara siswa, beserta penularan siswa kepada guru, ” tandas Atik.    

Child Protection Spesialist UNICEF, Naning Pudjijulianingsih, menegaskan  prioritas zaman ini adalah bagaimana semua terlindungi. ”Yang penting bagaimana kesiapan madrasah dan guru. Kemudian siapa dengan mengawasi kalau PTM dijalankan. Apakah perlu ada Satgas?, ” ujarnya.  

Direktur LPA Tulungagung Winny Isnaini menambahkan, tersedia banyak hal yang perlu dipersiapkan baik oleh orang tua maupun anak-anak saat pandemi. Bagi orang tua  salah satunya adalah bersiap menghadapi kebiasaan baru seperti mendampingi anak belajar secara kekinian. (ren)